Alkisah seorang pemuda di tanah timur-tengah.. sejak masa mudanya dia tidak pernah mengenal apa yang namanya orang kaya, suatu ketika lewatlah seorang saudagar dari ibukota negeri dengan mengendarai unta yang sehat dan jubah yang sangat gemilau (jaman dulu belum ada mercy, naik unta aja udah bergengsi lho..)
Si pemuda takjub dan terkagum-2 akan pesona dari saudagar tersebut, dua hari.. lima hari.. seminggu.. si pemuda masih terbayang-2 karena gemilaunya jubah sang saudagar.. akhirnya, si pemuda bertekad bulat.. “aku harus ke ibukota, dan membeli jubah seperti yang dimiliki saudagar tersebut!” begitu yang ada di benaknya.
Ibukota… dengan segala usaha numpang sana – numpang sini (tapi ikut numpangnya juga unta, bukan mobil pick-up), akhirnya si pemuda dusun sampai juga di ibukota negeri tersebut, pertama kali dalam hidupnya.. wow.. ternyata yang pakai jubah gemerlap seperti saudagar waktu itu, bukan cuma satu lho.. tapi hampir semua pakai jubah seperti itu.. “berarti aku juga bisa dapat satu donk” itu yang terlintas di pikiran si pemuda.
Dengan kerja keras, siang malam, hujan – panas, tak kenal menyerah.. akhirnya si pemuda mampu membeli jubah yang berkilau-2, persis seperti kepunyaan saudagar waktu itu (padahal dia belinya juga yang imitasi kok). Sekarang hidup si pemuda sudah agak lumayan, sudah punya kios jual guci tempat air minum..
Suatu sore saat ia berkeliling-2 kota, nampak di hadapannya sebuah rumah yang gedenya hampir sama dengan luas desa tempat ia dulu berasal.. eh.. tiba-tiba terlihat saudagar yang waktu itu lewat di desanya, keluar dari rumah super gede tersebut. “Wah.. rupanya saudagar itu super kaya raya ya.. ” kembali semangat si pemuda berkobar-2 untuk menjadi lebih kaya lagi.
Kini setiap hari, siang malam bahkan hingga subuh, hujan- panas- sampai hujan lagi, si pemuda tidak lelah-nya berdagang dan mengembangkan usahanya, jenis dan model gucinya sudah beraneka ragam, selain itu dia juga sudah memiliki usaha karpet & permadani(tapi bukan permadani terbang lhoo..) Hari demi hari, bulan berganti, tahun demi tahun.. akhirnya si pemuda menjadi seorang saudagar yang kaya raya, segala jerih payah dan keringatnya selama ini terbayar sudah.. ia mampu membeli segala yang ia inginkan di negeri itu..
Hari-hari berikut, sang saudagar baru (Orang Kaya Baru) sudah memiliki semua jenis barang berharga dan makanan yang hanya bisa didapatkan oleh seorang super kaya seperti dia.
Namun selang beberapa bulan berikut.. kesehatannya menurun drastis, wajahnya
pucat, tabib-tabib pun tidak mampu mengobati penyakitnya.
Sayembara diadakan, barangsiapa mampu menyembuhkan dia akan mendapat separuh kekayaannya. Berpuluh2 tabib sakti mencoba untuk menyembuhkannya, namun hasilnya tetap nihil. beberapa bulan kemudian sang saudagar baru tersebut menghembuskan napasnya yang terakhir di dalam rumahnya yang super gede, ditemani berpuluh – puluh pengawal dan pelayan…
“Kejarlah kesuksesan dengan segala usaha terbaik, asalkan anda masih bisa menikmati kesuksesan tersebut”







Betul sekali bung. Bos saya dikantor tidak minum teh botol aja nggak berani, karena terkena diabetes. Saya bersyukur walaupun hidup pas-pasan tapi tetep bisa menikmati semua makanan yang saya inginkan
kesehatan lebih penting dari smuanya, harta yang tak ternilai
@goyangan
goyang mang..
pas pengen makan lobster… bisa makan, pas pengen beli mobil… bisa beli.. hehehehe… yang penting bagaimana kita mensyukurinya kan mas..
@gadis
setuju mbak Gadis, bagaimana kabar keluarga di Tangerang, sehat-2 semua kan ? : )